Bekas-bekas keagungan era Khilafah Ustmaniyah di Istanbul bisa disaksikan dalam dua bentuk. Pertama adalah bangunan fisik kota yang tetap dapat dipakai hingga kini, meski sudah ratusan tahun, seperti sistem pembuangan limbah, jalan-jalan, masjid, mata air, taman, pasar, hingga Universitas. Kedua adalah relik orisinil yang disimpan di museum atau pusat-pusat arsip.
Dari sekian banyak bangunan fisik berusia tua, yang paling menarik tentu saja adalah masjid-masjid yang tampak indah. Ikon dari Istanbul adalah Masjid Sultan Ahmet, yang berhadapan dengan Aya Sofia dan dikelilingi oleh taman-taman yang indah (Sultan Ahmet Square). Masjid ini dibangun abad 16 dan satu-satunya masjid yang punya enam minaret. Kubahnya menggunakan ornamen bercat kebiru-biruan, sehingga disebut juga Masjid Biru (Blue Mosque).
Ketahanan bangunan ini terhadap gempa telah teruji. Harus diingat bahwa Turki adalah wilayah pertemuan tiga lempeng tektonik, yaitu Eropa, Asia, dan Afrika-Mediteran. Wilayah ini sangat sering diguncang gempa, sampai data pertanahan di sana harus terus-menerus di-update karena titik-titiknya akan selalu bergeser oleh dinamika bumi. Namun, masjid-masjid di Turki yang dibangun berabad-abad yang lalu terbukti bertahan hingga kini.
Di Aya Sofia juga dipamerkan surat-surat Khalifah (’Usmans Fermans’) yang menunjukkan kehebatan Khilafah Ustmaniyah dalam memberikan jaminan, perlindungan dan kemakmuran kepada warganya maupun kepada orang asing pencari suaka, tanpa memandang agama mereka.
Yang tertua adalah surat sertifikat tanah yang diberikan tahun 925 H (1519 M) kepada para pengungsi Yahudi yang lari dari kekejaman inquisisi Spanyol pasca jatuhnya pemerintahan Islam di Andalusia.
Kemudian surat ucapan terimakasih dari Pemerintah Amerika Serikat atas bantuan pangan yang dikirim Khalifah ke Amerika Serikat yang sedang dilanda kelaparan (pasca perang dengan Inggris) abad 18.
Lalu surat jaminan perlindungan kepada Raja Swedia yang diusir tentara Rusia dan mencari eksil ke Khalifah, 30 Jumadil Awal 1121 H (7 Agustus 1709).
Surat tertanggal 13 Rabiul Akhir 1282 H (5 September 1865 M) yang memberi ijin dan ongkos kepada 30 keluarga Yunani yang telah beremigrasi ke Rusia namun ingin kembali ke wilayah Khilafah, karena di Rusia mereka justru tidak sejahtera.
Yang paling mutakhir adalah peraturan yang bebas cukai barang bawaan orang-orang Rusia yang mencari eksil ke wilayah Utsmaniy pasca revolusi Bolschevik. Tertanggal 25 Desember 1920.
Di Aya Sofia dipamerkan sekitar 100 sampel surat-surat yang menakjubkan, baik ditujukan kepada Khalifah maupun yang dikeluarkan oleh Khalifah. Sayangnya, yang ditonjolkan adalah bahwa semua itu seakan-akan merupakan bukti kehebatan bangsa Turki di masa lalu, bukan terpancar dari aqidah Islam, syari’ah Islam dan sistem Daulah Khilafah.
Pusat arsip pertanahan ada di Ankara, 500km dari Istanbul. Ankara adalah ibukota pemerintahan Turki. Namun, ibukota bisnis dan budaya tetap Istanbul, yang penduduknya 12juta, tiga kali Ankara.
Pada 1416 Sultan Muhammad I (kakek Al-Fatih) menyatakan bahwa tanah-tanah yang didapatkan melalui jihad adalah milik umum (dikelola negara) , sedang hak gunanya pada pemilik sebelumnya. Maka beliau lalu melakukan land census . Registrasi ini berjalan bagus hingga abad 17.
Jumlah dokumen di pusat arsip ini ada sekitar 1500ton, meliputi wilayah dari Afghanistan sampai Maroko, dari Semenanjung Krim di Rusia sampai Sudan. Ada cerita bahwa setelah Republik Turki berpisah dari negeri-negeri yang semula dikuasainya, ada keluarga Turki yang mengklaim tanah warisan yang berada di Mesir. Di pusat arsip ini dia dapatkan mikro film yang ternyata diterima di Pengadilan Mesir sampai mendapatkan ganti rugi beberapa juta US Dollar.
Tak pelak lagi bahwa sumber kekuatan Turki di masa lalu adalah Islam. Turki maju juga karena melaksanakan syari’ah. Syari’ahlah yang memberi mereka berbagai inspirasi untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam, memimpin dunia memerangi kekufuran dan kedzaliman, dan untuk itu mereka menyiapkan segala upaya untuk mengemban misi itu. Mereka menyiapkan ekonomi, menggembleng generasi muda, mengembangkan sains dan teknologi, dan kini bekas-bekasnya masih ada.
Ironisnya, meski sangat sekuler, Turki belum diterima menjadi anggota Uni Eropa (UE). Alasan UE adalah; inflasi Turki sangat tinggi, memiliki angka pengangguran tertinggi di Eropa, inkam perkapita lebih rendah dari negara termiskin UE (yaitu Portugal) dan corak kultur Turki (yaitu Islam) berbeda dari UE yang lain. Maka Turki kini mencoba mendekati negeri-negeri Asia Tengah, negeri-negeri Laut Hitam dan negeri-negeri Islam. Dia ingin kembali merebut posisi kepemimpinannya di dunia. Tapi apa bisa tanpa Islam? Wallahu a’lam.

www.ottomannavy.com
BalasHapus